INSPIRASI UNTUK BANGSA INDONESIA


*Kita seringnya tidak tahu
Saya suka berbagi cerita seperti ini, tentang kesalahan diri sendiri, maka semoga orang lain tidak perlu mengalaminya. Karena itu jelas tidak menyenangkan. Biar tdk ada yang tersinggung, akan saya gunakan ilustrasi langsung saya sendiri dalam cerita ini. Dan biar kalian tidak terlalu serius, anggap saja ini fiksi, toh, saya itu hanya pengarang fiksi.
Alkisah, tere liye si penulis fiksi itu terbang ke luar negeri, transit, naiklah dia maskapai yang keren, dengan penumpang dengan wajah dan kulit yang berbeda. Di tengah penumpang yang berbeda bahasa tersebut, amat menyenangkan menemukan dua orang dengan bahasa yang sama, hei, ternyata mereka dari sekitaran jawa barat, wah, cocok ini, bisa bicara tentang bandung, dsbgnya. Tertawa, dengan cepat akrab.
Satu orang tersebut adalah doktor lulusan universitas bagus di LN, dan dia menetap di sana, bekerja di sana, kita sebut saja Bambang. Satu orang lagi, baru mau ambil S2, adik kelas dari Si Bambang waktu kuliah di kampus bandung. Banyak hal yang bisa dibicarakan dalam penerbangan beberapa jam tersebut. Dan segera, topik yang muncul di kepala saya adalah: kenapa mas Bambang menetap di LN? kenapa Mas Bambang mau bekerja di sana? Hei, kenapa mas Bambang nggak balik ke kampungnya di pelosok jawa barat, agar bisa membangun kampungnya.
Semangat sekali saya membahasnya, sehingga abai, kalau mas Bambang ini hanya tersenyum, mengangguk, tidak banyak menjawab. "Wah, mas, itu kan brain drain? Siapa yang akan membangun kampung2 kalau Mas sendiri menetap di LN?" tidak puas, "Wah mas, harusnya orang2 peduli dengan tanah kelahirannya." atau "Jangan karena nyaman dan gajinya tinggi loh, Mas, kampung halaman dilupakan." Pokoknya seru sekali saya berkomentar, sama sekali tidak menyadari Mas bambang hanya tersenyum sopan, mengangguk takjim. Entahlah, hingga topik itu terlewatkan karena kembali membahas hal lain, pembicaraan pindah tentang kuliner lokal di negeri orang--yang kali ini Mas Bambang menanggapi semangat.
Setiba di bandara tujuan, beres urusan stempel imigrasi, berbelok menuju lobi kedatangan, sebelum berpisah saling melambaikan tangan, saya ingin ke toilet. Nah, si adik kelas mas Bambang yang lagi ambil S2 itu entah kenapa juga ingin ke toilet. Kami berjalan bersama.
"Abang tahu tidak, Mas Bambang itu mengirimkan puluhan ribu dollar untuk kampungnya? Abang tahu tidak, Mas Bambang itu membangun sistem irigasi, listrik, semua infrastuktur kampungnya sekarang. Abang tahu tidak, Mas Bambang itu mendirikan klinik, memberdayakan ibu rumah tangga, memberikan akses pendidikan. Sepuluh tahun sejak Mas Bambang tinggal di luar negeri, kampungnya, bahkan kampung2 di sekitarnya sekarang tidak lagi kampung terpencil, sudah maju, hanya karena usaha Mas Bambang sendirian, sama sekali tidak melibatkan pemerintah, pejabat2."
Saya diam, menatapnya.
"Pertanyaan relevannya sekarang, kalau Mas Bambang yang hanya bisa pulang sekali setiap dua tahun, itupun hanya seminggu, tapi dia bisa memberikan banyak hal ke kampung halamannya. Lantas apa yang abang lakukan untuk negara Abang, padahal Abang setiap hari ada di sana?"
Saya benar2 menelan ludah.
Dalam cerita ini saya benar2 paham telah melakukan kesalahan fatal; dan yang amat mengesankan, sungguh amat mengesankan, justeru mas Bambang kita dalam saat bersamaan, melakukan kebijaksanaan paling mendasar saat menyikapi orang2 sok tahu, orang2 sok akrab, kenal juga tidak, seperti saya. Dua kontras yang tajam sekali. Saat saya rese menyebalkan, Mas Bambang tidak bergegas harus mendaftar apa yang telah dia lakukan untuk mempermalukan saya, mas Bambang hanya tersenyum dan mengangguk.
Ah, dunia ini memang ramai diisi oleh orang2 seperti saya. Tapi setidaknya, saat saya bergegas minta maaf, merasa amat bersalah, mas Bambang lagi2 simpel tersenyum, "Kita bisa selalu memperbaiki diri. Jangan terlalu dipikirkan." Well yeah, saya menemukan lagi ego itu, saya bisa memperbaiki diri kok--meski besok2 ya cuma jadi tameng saja bilang akan memperbaiki diri.
Share this article :

Posting Komentar




PUSAT UMROH MURAH
HANYA $1.850
HOTEL:
MAKKAH : NAWAZI AJYAD (150METER)
MADINAH : AL MAJEEDI (50METER)

HUBUNGI SEGERA:
DONDY YANU A.
0838 5466 4180
PIN BBM:
56F4BEE6
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. umroh eksekutif surabaya, umroh murah, paket umroh eksekutif, travel umroh eksekutif - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger